Sabtu, 03 Maret 2012

Foursquare Emoh Gunakan Google Map Lagi

Bagi penggemar media sosial tentu sudah tidak asing lagi dengan Foursquare, yaitu situs jejaring sosial dengan fitur andalannya berupa check-in lokasi. Setelah sekian lama menggunakan peta milik google, sepertinya Foursquare kini enggan menggunakannya lagi, mereka beralih menggunakan platform OpenStreetMap, sehingga nantinya tampilan peta akan mengalami perubahan desain pada tombol dan warna. Harga Google Map yang dinilai terlalu tinggi menjadi penyebabnya, namun perubahan ini hanya terjadi untuk versi website saja, sementara untuk iOS dan Android masih tetap menggunakan Google Maps.

OpenStreetMap pada dasarnya seperti wikipedia yang membuat peta dunia gratis dengan data yang dikumpulkan oleh pengguna internet. Petabaru ini akan didesain oleh MapBox untuk menyederhanakan OpenStreetMap yang rumit. Dengan MapBox memungkinkan adanya fleksibilitas desain sehingga mereka dapat memilih jenis dan warna huruf untuk dicocokkan pada aplikasi.




Film Indonesia akan Berkiprah di Ajang Berlinale 2012

Empat film Indonesia akan beradu dengan berbagai film dunia dalam berbagai kategori dalam Berlinale Film Festival 2012 atau kerap disebut Berlinale. Setelah 50 tahun absen dalam kategori paling bergengsi di Berlinale yaitu kategori kompetisi, kini Indonesia patut bangga karena sineas Indonesia dapat meloloskan film berjudul Kebun Binatang atau dialihbahasakan menjadi Postcard from the Zookarya Edwin dari Babi Buta Film.  Drama yang dibintangi oleh Ladya Cheryl dan Nicholas Saputra ini bercerita tentang seorang anak perempuan yang ditinggalkan ayahnya di kebun binatang dan akhirnya dirawat oleh seorang pelatih jerapah. Dalam film ini Nicolas Saputra berperan menjadi seorang  pesulap.

Film ini akan berkompetisi guna memperebutkan penghargaan paling bergengsi yaitu  Golden Bear (film terbaik) dan Silver Bear (aktor, aktris, sutradara, skenario dan outstanding artistic achievement). Postcard from the Zoo akan bersaing dengan 17 film lain seperti  The Flowers of War karya Zhang Yimou dari China, Captived karya Brilliante Mendoza dari Filipina dan Extremely Loud and Incredibly Close karya Stephen Daldry dari Amerika. Film ini menjadi film Indonesia kedua yang masuk seleksi Berlinale kategori kompetisi setelah 50 tahun. Film Badai Selatan karya Sofia WD produksi 1962 adalah film Indonesia pertama yang berhasil masuk seleksi resmi Berlinale untuk penghargaan Golden Bear.

Selain itu film garapan bersama delapan sineas perempuan Indonesia dan Jerman  berjudul Anak-Anak Srikandi  lolos seleksi untuk kategori  Panorama. Film ini menggambarkan fenomena lesbian di Indonesia. Film garapan Sammaria Simanjuntak berjudul '7 Deadly Kisses' produksi PT Kepompong Gendut  juga lolos seleksi kategori Panorama Short Supporting Film. Film berdurasi 4 menit ini bercerita tentang 7 teknik ciuman fatal yang dibenci wanita. '7 Deadly Kisses' diperankan oleh Sunny Soon, Daud Sumolang dan Vivian Idris.

Dalam kategori Generation film produksi Pemerintah Kabupaten Wakatobi, Sulawesi Tenggara berjudul The Mirror Never Lies (Judul Indonesia “Laut Bercermin”) yang dibesut oleh Kamila Andini juga berhasil lolos seleksi panitia Berlinale. Generation  merupakan kategori yang menampilkan berbagai film yang ditujukan untuk anak-anak dan remaja. Film ini sebelumnya meraih dua penghargaan pada Tokyo Internasional Film Festival 2011 yakni Earth Grand Prix Award dan Special Mention Winds of Asia Middle East. Kamila juga meraih penghargaan Bright Young Talent award dari Mumbai International Film Festival2011.
            
Berlinale merupakan salah satu ajang festival film internasional yang paling terkemuka. Ajang ini diperkenalkan pertama kali pada tahun 1951. Dengan penjualan tiket  rata-rata mencapai 274.000 dengan 400 film mendaftarkan diri untuk seleksi  menjadikan Berlinale sebagai festival film dunia yang paling menyedot animo penonton. Tiket sendiri baru dapat diperoleh tanggal 6 Februari dengan cara memesan secara online di website resmi Berlinale yaituwww.berlinale.de.

Sumber : Kedubes RI - Jerman

Iko Uwais Konsisten di Film Laga

Iko Uwais kembali lagi berakting dalam film terbarunya yaitu "Serbuan Maut" yang disutradarai oleh Gareth H. Evans. Film ini masih dominan dengan unsur laga sebagaimana film sebelumnya yang pernah diperankan oleh Iko yaitu "Merantau". Pria bernama asli Uwais Qorny ini memiliki perjalanan panjang dalam silat. Sejak masih duduk di bangku SD, Iko sudah berlatih silat di Perguruan Silat Betawi Tiga Berantai. Bakat silat Iko nampaknya diturunkan dari sang Kakek, H. Abdul Rohim, seorang guru silat. Dan keahliannya dibidang silat juga bukan sekedar gaya-gayaan, namun sederet prestasi telah diraihnya, seperti Kejuaraan Nasional Silat di Cibubur (2005), perwakilan Indonesia ke London (2006), Laos dan Kamboja (2007) melalui organisasi Persilat. Tahun 2008, Iko bertemu dengan sutradara berkebangsaan Inggris, Gareth Evans, yang kala itu sedang berburu atlet silat untuk proyek film dokumenter tentang pencak silat. Sebelum berjodoh dengan Gareth, Iko bekerja sebagai supir di sebuah perusahaan telekomunikasi selama 2 tahun. Namun karena di kontrak ekslusif selama lima tahun, Ia pun sudah tidak lagi menjadi supir.

Untuk seorang aktor laga, postur tubuhnya memang tidaklah tinggi besar, namun kondisi itulah yang membuat Iko ringan melayangkan tendangan mematikan, atau meloncat ke leher lawan dan melakukan gerakan puntiran. Harapan untuk menjadikan Iko sebagai new ikon hero datang dari berbagai pihak, karena setelah era Berry Prima dan Advent Bangun di tahun 80-an, Indonesia tidak memiliki ikon laga yang menjadi petarung sejati. Saat beradegan duel, pria kelahiran 12 Februari 1983 jarang memakai pelindung badan karena mengurangi kebebasan bergerak. Bahkan trik kamera maupun stunman juga emoh digunakannya.

Dalam Film terbarunya "Serbuan Maut" yang baru akan rilis bulan Maret 2012, Iko berperan sebagai pasukan inti khusus dengan tugas menumpas gembong narkoba. Untuk memantapkan peran kali ini, Iko diharuskan mengikuti pelatihan bootcamp di Markas KOPASKA (Komando Pasukan Katak Angkatan Laut Indonesia) di Tanjung Priok selama 1 minggu. Bukan hanya berakting, Iko juga ikut mengerjakan koreorafi bersama Yayan Ruhian untuk keperluan adegan laga di Film ini. Selain Iko, film ini juga dibintangi oleh donny Alamsyah, Verdi Solaiman dan Ray Sahetapy. Penasaran ingin segera menontonnya? 

Film Pendek SMPN 1 Manado Raih “Best Script Award” di Singapura

Film pendek persembahan SMPN 1 Manado benar-benar mampu menyedot perhatian penontonnya. Karya itu pun dinobatkan sebagai peraih Best Script Award. Suara biola menyayat hati. Itulah pembukaan film pendek persembahan SMPN 1 Manado. Kala diputar, semua penonton hening dan larut dalam alunan kepedihan.
Tiba-tiba muncul bumi yang tergambar sangat menderita. Reot, jelek dan menangis terlukis jelas melalui animasi yang diracik pas bersama lantunan musiknya.
Alunan pembuka dan kemunculan bumi menjadi kejutan bagi penonton. Saat itulah decak kagum, dan acungan jempol para penonton mewarnai pemutaran film pendek tersebut.
Film berdurasi 5 menit bertemakan lingkungan, berjudul Selamatkan Bumi dengan Recycle, karya Tim SMP Negeri 1 Manado diputar di acara Kid Witness News tingkat Asia Pasifik di Singapura pada 21 – 24 Februari 2012, akhirnya berhasil memboyong predikat Best Script Award.
Tim itu terdiri dari siswa Baharudin Djaafara dan siswi Sitti Noer Halid bersama guru pendamping SMPN 1 Manado, Grace Lowing berhasil meraih prestasi dan mengharumkan Indonesia.
Ya, SMPN 1 Manado mewakili Indonesia untuk maju di tingkat Asia Pasific, setelah pada bulan November 2011 lalu menjadi Juara Nasional Kid Witness News Indonesia. Seusai tingkat Asia Pasific film tim ini berlanjut di penilaian tingkat Dunia.
Kid Witness News merupakan kompetisi tahunan anak-anak sedunia dalam pembuatan film singkat tentang lingkungan atau komunikasi yang diselenggarakan oleh Panasonic. Pada tingkat Asia Pasifik, acara ini diikuti oleh Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Vietnam, New Zealand, dan Australia.
“Memang script kami kuat makanya layak menang,” ujar Grace Lowing, sang guru pendamping. Ia kembali menorehkan kebanggaan, sudah kali kedua, tim yang ia dampingi berhasil raih prestasi.
Tahun sebelumnya SMPN 1 Manado juga menonjol saat menjadi pemenang lomba Kid Witness News (KWN) Indonesia yang dilaksanakan di XXI Jakarta Theatre pada 10 November 2010. SMPN 1 Manado mengalahkan lebih dari 500 peserta di seluruh Indonesia.
Juara pertama berhasil diraih oleh SMPN 1 Manado setelah membuat sebuah film dengan judul Mane’e, Tradisi Tangkap Ikan dengan Mantra.
Kali ini Grace memilih hal beda, mencoba menuangkan ide membuat film animasi karena beberapa kali penghargaan tingkat dunia diborong oleh film animasi.
Bersama timnya ia mencoba menggabungkan antara animasi dan gambar nyata. Contoh ketika bumi sedih, muridnya Baharudin Djaafara memeluk bumi yang digambar animasi. Gambar bumi dengan goresan tangan, bukan menggunakan komputer.
Sejak awal ia yakin film animasi akan meraih prestasi berdasar respon penonton.
“Waktu baru tampil biolanya memelas sekali. Lalu hening tak ada suara, suara terdengar setelah keluar bumi. Mereka kemudian mengacungkan jempol dan memuji bagus,” jelasnya.
Grace optimistis mampu raih prestasi di tingkat dunia karena baik siswa maupun para pendamping di sekolah saling membantu. Misalnya aransemen musik biola, lagunya otentik karena ada seorang guru yang membantu.
Selain penghargaan, tim ini mendapat uang pembinaan sebesar 450 dollar AS. Hal lain yang didapatkan adalah pelajaran untuk membuat animasi, syuting film hingga editing di IKJ, lalu juga bisa melihat kemegahan School of The Art (Sota) Singapura.
Senada dengannya dr Jein Djaafara, orangtua Baharudin yang turut mendampingi mengaku senang bisa ikut dalam kegiatan tersebut. “Wah ini pengalaman luar biasa untuk anak saya. Dan ternyata bisa dibagi waktu antara kegiatan ini dan sekolah,” katanya.
Sumber : http://www.tribunnews.com/2012/02/27/hebat-film-smpn-1-manado-menang-di-singapura

Jumat, 02 Maret 2012

Film Anti Korupsi

Tak ingin hanya berfokus pada penangkapan dan pengungkapan kasus-kasus korupsi yang sudah terjadi, KPK bekerja sama dengan TII (Transparency International Indonesia) dan USAID (United State Agency International Development) memproduksi sebuah film berdurasi 20 menit. Film tersebut terdiri dari empat buah film pendek yaitu "Pssst...Jangan Bilang Siapa-siapa" karya Chairun Nisa, "Rumah Perkara" karya Emil Heradi, "Aku Padamu" karya Lasja F. Susatyo dan "Selamat Pagi Risa!" karya Ine Febriyanti. Yang kesemuanya mempunyai satu benang merah dan syarat nilai-nilai integritas yang ditanamkan dalam keluarga. 


Proses pembuatan film melibatkan publik secara intensif dimulai dari lomba ide cerita pada September 2011 yang dilanjutkan dengan kegiatan lokakarya pengembangan cerita (skenario) hingga rangkaian diskusi dengan banyak tokoh media, aktivis media sosial, jurnalis, termasuk pimpinan KPK dalam rangka menggali dan mengembangkan ide. Film Kita Versus Korupsi bukan film komersial dan akan diputar bukan untuk maksud komersial. Pemutaran film akan dilakukan melalui kegiatan roadshow di kota-kota besar di Indonesia yang dikemas dalam kegiatan bedah atau diskusi film. Masyarakat juga bisa menginisiasi pemutaran film ini dengan menghubungi pihak KPK ataupun TII.

Film ini didanai oleh USAID dan sempat menjadi sorotan beberapa pihak khususnya di DPR karena dikhawatirkan ada muatan-muatan politik tertentu dari pihak luar, namun Ketua KPK Busro Muqoddas memastikan tidak adanya campur tangan dan muatan-muatan tertentu dalam pembuatan film ini. Bahkan para pemain dan pihak-pihak yang terkait dengan film ini, rela tidak dibayar untuk terselesaikannya film yang syarat dengan pesan moral dan semangat anti korupsi. 




"Negeri 5 Menara" Sudah Tayang

Film yang diambil dari Novel dengan judul yang sama karya Ahmad Fuadi telah dirilis pada pertengahan Februari 2012. Film sarat makna ini sangat layak ditonton oleh pecinta Film Indonesia karena selain berdasar kisah nyata, film ini penuh dengan inspirasi dan nilai-nilai yang layak dipegang teguh oleh generasi muda saat ini. 

Film ini mengisahkan sebuah petualangan seorang anak yang sangat sederhana, namun karena keteguhan dan kerja keras, ia sukses bukan saja di negeri sendiri namun juga di tingkat dunia. Film Negeri 5 Menara berlatar belakang kehidupan pesantren anak-anak dari berbagai daerah di Indonesia yang sangat sederhana. Mereka belajar di Pondok Madani, sebuah pondok pesantren di Ponorogo, Jawa Timur. Petualangan enam murid pondok pesantren sebagai tokoh sentral film ini dikemas lucu, unik, penuh haru dan bersahaja. Sebuah kekuatan dari kalimat "man jadda wajada" telah menginspirasi mereka dan menjadi kekuatan untuk mewujudkan impian masing-masing.

Film ini semakin menarik, ketika mengambil lokasi syuting di London sebagai lokasi syuting terakhir untuk memperlihatkan para anggota Sahibul Menara reuni di Trafalgar Square, London. Para pemeran Sahibul Menara dewasa meneriakkan "man jadda wajada" dengan kencang di tengah keriuhan trafalgar Square yang berada di jantung kota London, Inggris. Inilah simbol impian yang bisa jadi nyata kalau dibela dengan spirit man jadda wajada dan doa yang terus-menerus.

Novel Negeri Lima Menara sendiri merupakan novel yang cukup fenomenal karena telah mendapatkan penghargaan sebagai buku terfavorit Anugrah Pembaca Indonesia 2010 dan Nominasi Katulistiwa Literary Award 2010. Novel ini juga memecahkan rekor penerbit Gramedia Pustaka Utama sebagai buku lokal terlaris dalam 37 tahun terakhir, sehingga banyak sekali pembaca yang ingin segera menyaksikan film ini. Hebatnya lagi, Novel ini telah diterbitkan juga di Malaysia dan berhasil merebut perhatian pecinta novel di sana, dan yang membanggakan kita semua buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris oleh Angie Kilbane dengan judul "The Land of Five Towers". Buku ini diperuntukkan untuk pembaca internasional dan diluncurkan dalam sebuah festival buku bergengsi, Ubud Writers dan Readers Festival di Ubud pada Oktober 2011 kemarin.

Official Trailer "Negeri 5 Menara" 

Republik Twitter

Film yang satu ini mengangkat kegilaan anak muda akan jejaring sosial, alkisah Sukmo yang diperankan Abimana Aryasatya merupakan sosok yang menjalani kesehariannya dibelakang komputer termasuk berselancar di jejaring sosial termasuk twitter, hingga suatu saat ia jatuh cinta kepada Hanum yang diperankan oleh Laura Basuki. Sukmo merupakan lelaki Jogja yang ambisius, lucu dan cerdas, sementara Hanum adalah gadis yang pemurung. Namun kedua orang ini memandang twitter secara berbeda, bagi Sukmo twitter adalah dirinya apa adanya, sementara Hanum menganggap twitter tak lebih sebagai tempat pelarian. Mereka dekat dan jatuh cinta, namun dunia maya tidak akan pernah memuaskan siapapun yang benar-benar hidup di dunia nyata, Sukmo pun berangkat ke Jakarta untuk menemui Hanum. Namun perjalanan cinta Sukmo tidak semudah yang dibayangkan, nampaknya Sukmo lupa jika di dunia nyata terdapat kelas sosial dan ia harus berjuang menundukkannya.

Film yang baru diluncurkan pertengahan Februari ini sangat menarik, termasuk bagi Menkominfo, Bpk Tifatul Sembiring. "Sebagai pengguna aktif twitter saya memberi apresiasi yang setinggi-tingginya dan senang media sosial ini diangkat dalam sebuah film. Selain memberikan pemahaman positif bagaimana penggunaan twitter dengan baik film ini memberikan ide kreatif bagi anak muda" kata Bapak Menteri usah menonton "Republik Twitter" di senayan City XXI, Jakarta. Menurutnya, film yang mengangkat fenomena pesatnya perkembangan sosial media di masyarakat ini cukup mengena karena memberikan sebuah pembelajaran bagaimana memanfaatkannya dalam kehidupan sehari-hari. "Tidak hanya pertemanan, namun twitter bisa dikelola dengan baik bisa berpengaruh terhadap ekonomi, sosial, politik, bisnis, bahkan untuk riset dan pengembangan suatu industri" tambah Tifatul.

Film yang disutradarai oleh Kuntz Agus ini juga menampilkan sosok baru dalam dunia perfilman yang cukup menarik perhatian. Ya, dialah Enzy Storia. Gadis berdarah Aceh Polandia ini berperan sebagai Nadya Cahyadi, pemeran pembantu utama. Menjadi Nadia, Ezy harus menonjolkan karakter yang manja dan kerajingan jejaring sosial. Dara berusia19 tahun ini pun berusaha menggali kemampuan aktingnya, secara otodidak. Dia pun merasa senang dapat beradu akting dengan para seniornya dan akan terus mengasah kemampuan aktingnya.

Enzy Storia




















Para Pemain Republik Twitter


 
Design by Free Wordpress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Templates